Coretan Dinding Mata Hati Orang Pinggiran

MELIHAT tayangan televisi banyak remaja yang bangga menjadi generasi frustasi. Sekolah biasa-biasa saja yang penting pak guru Umar Bakri senang pasti jadi murid kesayangan. Begitu cita-cita yang digantungkan setinggi langit semakin susah dicapai hingga seorang sarjana muda mengeluh terus pada nasibnya yang tidak pernah mujur dalam mencari kerja.

PERGI kesana dan kemari hingga bertemu si tua sais pedati yang masih ada dan setia mencari rumput untuk makan sapi-sapinya yang menjadi modal kehidupan empat orang anaknya. Baru tiga empat langkah ternyata didepan sebuah persimpangan jalan tampak si Budi kecil masih saja berjualan koran di suatu sore tugu Pancoran.

BELUM habis kaki ini melangkah sambil menikmati macetnya jalan terlihat sebuah gedung megah berhalaman luas. Seorang tukang pos berhenti di pintu gerbangnya dan memberikan surat buat wakil rakyat kepada penjaga pintu dengan kumis tebal melintang yang berlagak seperti seorang serdadu kelaparan. Surat itu berisi seluruh persoalan hidupnya yang tidak pernah membaik dari jaman orde baru hingga sekarang ini jaman orde yang paling baru.

DI tempat lain tuan Polan yang berkantong tebal masih asyik membaca koran pagi sambil ngopi di kursi teras berlantai marmer rumahnya. Sementara si Icih terus saja meneteskan air mata yang jatuh kedalam ember berisi air pembersih lantai. Si Urip yang pipinya lebam karena tamparan tante Lisa masih menjalankan aktivitasnya mencuci mobil mengkilat milik anak majikan.

SEBENTAR menoleh ke ujung aspal Pondok Gede nampak rutinitas bumi hangus bangunan masih terjadi. Raung buldozer semakin menggila merobohkan rumah-rumah petak milik pendatang yang tidak boleh mendapat kesempatan hidup di kota besar. Padahal Tarmijah teman si Icih baru seminggu datang untuk mencoba keberuntungan di kota ini. Nona yang jidatnya masih memerah bekas hantaman nyonya majikan sebelumnya semakin sedih karena tak punya rumah lagi. Beban pikiran dan kebutuhan untuk menghidupi anak-anaknya semakin berat. Sampai pada suatu titik dia berpikiran untuk menjadi lonte.

SI Budi kecil sepulang dari menjual koran di simpang tugu Pancoran kaget bukan kepalang melihat rumahnya telah rata dengan tanah. Kedua orang tuanya entah dimana. Bapaknya yang bernama Sugali seorang pengangguran dan entah sekarang dipenjara dimana atau malah sudah mati. Sedangkan ibunya sekarang entah sedang berada di hotel mana dan booking siapa. Dia bingung mau jadi apa nanti. Harapannya hancur berantakan dan jadilah dia berandal malam di bangku terminal. Kawan-kawannya menjuluki dia Gali Gongli. Generasi kacau balau yang terpaksa bertahan hidup menjadi sampah masa depan bangsa yang tidak tahu mau dibawa kemana.

SEORANG lelaki renta setengah baya yang antri membeli tiket kereta terus bertanya “kereta tiba pukul berapa?” kepada petugas loket yang tidak pernah tersenyum. Tak seberapa lama datanglah segerombolan pria berbadan tegap berambut cepak. Lelaki itu di pukuli dan di borgol tanpa basa-basi. Rupanya mereka adalah petugas yang berpakaian preman. Keesokan harinya kabar dikoran berkata paman Doblang ditangkap dan dituduh sebagai teroris dengan penjelasan yang terkesan dibuat-buat.

NASIB sial sering menimpa mereka yang oleh sebagian orang dianggap orang gila dan orang pinggiran, padahal kita tidak pernah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Kebenaran dan keadilan disini terasa masih berada jauh di awang-awang bahkan masih sangat jauh. (sb)

No comments:

Post a Comment

IWANFALSMANIA.COM -> 100% Iwan Fals. Ini bukan situs official.
Komentar di iwanfalsmania.com dimoderasi, harap maklum. Asal bukan spam dan keluarganya, pasti komen Anda kita tayangkan :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...