Yang Tersendiri, Oemar Bakrie…

Cinta memang tak pandang usia, guru Zirah seorang guru muda lulusan sarjana muda rupanya ada hati dengan guru Oemar Bakrie yang sudah lanjut usia dan kini ditinggal mati istrinya. Berawal dari kekaguman dan kesalutannya terhadap Oemar Bakrie yang berdedikasi dengan gigih dan sabar mengajar hingga lebih dari 40 tahun tidak seperti karyawan atau tikus-tikus kantor lain. Dengan sabar ia mengajar muridnya yang bandel macam Gali Gongli anak Sugali seorang bromocorah, tapi ia tetap berharap agar anak didiknya berhasil bagai Habibie atau Bung Hatta setidaknya mengabdi pada negara seperti serdadu atau para tentara.


Nak, engkau lelaki kelak sendiri..” begitu pesannya kepada Gali gongli agar berubah sadar dan menjadi lelaki yang bertanggungjawab.

Dari jendela kelas 1, Zirah sering mencuri pandang Oemar Bakrie hingga akhirnya sebuah buku yang dipinjam menjadi intro alat pdkt Zirah ke Oemar Bakrie. Rupanya Oemar Bakrie menyambut baik cintanya Zirah. Ia tak memperdulikan omongan sumbang orang tentang Zirah yang memang seksi itu kayak lonte atau perempuan malam apalagi Zirah bertetangga dengan tante Lisa seorang janda genit yang sering melirik pemuda kaya yang bagi tante Lisa itulah obat awet mudanya. Bagi Oemar Bakrie yang penting hatinya dan juga Zirah tak kalah cantik dari Tince Sukarti binti Machmud seorang penyanyi terkenal saat itu. Maka mereka sepakat janjian pergi berkencan tanggal 22 Januari, yang awalnya selepas pulang kerja menjadi hari libur saja dan bertemuan di sebuah halte.

Di halte itu sambil bersender di sepeda kumbangnya Oemar Bakrie menanti Zirah dan bersenandung kumenanti seorang kekasih-nya lagu Iwan Fals. Saat mereka bertemu Zirah sempat menanyakan sepeda motornya Oemar Bakrie yang dikreditnya bulan lalu. Oemar Bakrie menceritakan bahwa sepeda motornya hilang waktu bertamu di rumah temannya, begitu tahu sudah ada di garasi kantor polisi ia melihat sepeda motornya dalam keadaan tak ber-aki, tak berlampu, tutup tangki hilang, kaca spionpun melayang. Ya sudah aku jual saja dech seadanya Yach itulah kisah sepeda motorku dan kini aku kembali dengan sepeda kumbang kesayanganku ini, katanya pasrah tapi bangga.

“Kemana kita nih..?” tanya Oemar Bakrie.

“Kita keliling kota terus santai di Condet, ya… ya atau tidak mas..?” tanya Zirah

“Cape deeech… tapi demi kamu jangankan Condet, Ujung Aspal Pondok Gede, ke Ethiopiapun aku antarkan….” gurau Oemar Bakrie sambil mengelak karena mau dicubit Zirah.

Bahagia sekali hati Oemar Bakrie hari itu, sehari bagaikan sang raja mirip libur kecil kaum kusam. Melewati tugu pancoran Oemar Bakrie menggenjot sepeda kumbangnya membonceng Zirah. Walau ambulan zig-zag, oplet tua atau kendaraan besar dan kecil sesekali menyalibnya ia tak peduli. Bagiku engkau pesawat tempurku, setidaknya lebih cepat dari pedatinya si tua sais pedati apalagi kuda lumping begitu pikir Oemar Bakrie tentang sepeda kumbang tuanya.

Dalam perjalanan keliling kota mereka sempat menyaksikan seorang anak tertidur berbantal sebelah lengan di seberang istana. Kontrasmu bisu, berkacalah Jakarta… begitu kesaksian Oemar Bakrie melihat potret di depan matanya. Berikanlah mereka pijar matahari… Pernah mereka hampir menyerempet kuli jalanan & pemborong jalan yang bercampur dengan bunga trotoar. Semuanya mereka ada di jalan.

“Maaf ya mas..” pinta Oemar Bakrie.

Oh, ya…” kata kuli jalanan kalem tak marah.

Oh ya, ya nasib,.. nasibmu jelas bukan nasibku…. Oh ya, ya takdir.. takdirmu jelas bukan takdirku… begitu canda Oemar Bakrie dalam hati ingat lagunya Swami. Dendam damai akan menjadi damai kalau keadaan di ujung abad disikapi dengan damai, tentu damai kami sepanjang hari, begitu opini Oemar Bakrie. Mereka juga melihat kerumunan orang dan ada anak-anaknya, diantara mereka ada yang berjoget tari India, stambul, chacha dan tari rebana.

“Ada apa tuh mas?” tanya Zirah “Oh itu, sunatan massal” jawab Oemar Bakrie.

“Nggak ikutan mas?.. goda Zirah

“Kalau aku ikut, nanti punyaku habis dooong, memangnya kamu mau punyaku habis…” ledek Oemar Bakrie.

Hihihi..Zirah tidak menjawab tapi malah mencubit dan mengkitik-kitik pinggang Oemar Bakrie membuat sepeda kumbang menjadi oleng.

“eh, eee eh eh jangan dong nanti nabrak nih…”

Setelah berkeliling kota sampailah mereka di taman pinggiran kota besar dekat Condet. Dalam taman mereka digoda kupu-kupu hitam putih yang terbang naik turun melintasi mereka. Ada juga belalang tua yang hampir jatuh di ujung daun dekat mereka duduk-duduk. Tak jauh dari mereka ada kumbang yang hinggap diatas bunga-bunga yang segar harum semerbak wanginya.

Ibu, eee..” kata Oemar Bakrie memecah keheningan

“Ah jangan manggil ibu ah mas, saya kan masih single” potong Zirah genit.

Cik, eh néng, eh nduk, eh nona… kita kayak bunga-bunga kumbang-kumbang aja ya…” kata Oemar Bakrie mulai merayu sedikit grogi.

Siapa yang tak grogi berhadapan dengan Zirah si VW kodok, wajahnya manis, pinggangnya ramping, kalau dilihat dari belakang pantatnya bagai salak raksasa, apalagi kalau tengok betisnya ckckckck … indah bak padi bunting.

“iya, tapi kalau saya sudah layu jangan dicampakin lho mas..”

“ya nggak dong yang…” balas Oemar Bakrie makin berani lagi.

Dalam hal merayu rupanya Oemar Bakrie punya cara sendiri tak kalah dari orang muda.

“Nona, matamu indah bagai mata indah bola pingpong” begitu rayunya sambil menyerahkan kembang pete. Entah darimana didapatnya kembang pete itu.

Sesekali dikeluarkan jurus kasacima-nya. “Kasihku kasih terkasih, sayangku sayang tersayang, cintaku cinta tercinta, manisku manis termanis…” weleh weleeeeeh….

Kemesraan ini janganlah cepat berlalu, kemesraan ini ingin kukenang selalu…” mereka berdua bernyanyi dengan bahagia mirip paduan suara ibu-ibu PKK jaman Soeharto.

Menjelang senja mereka kembali karena mata dewa sudah hampir tenggelam. Malamnya Oemar Bakrie masih sempat bertelpon-ria dengan Zirah. Lama sekali ia menelpon mirip dongeng sebelum tidur. Alam malam kala itu memang lain sebab mereka sedang mabuk cinta.

“Selamat tinggal sayang, selamat tinggal malam…” tutupnya sedikit puitis.

Perjalanan waktu begitu cepat bagaikan 2 menit 10 detik, padahal hubungan mereka baru berlangsung 3 bulan. Suatu waktu Oemar Bakrie sering tak melihat Zirah di sekolah. Lho kemana ya Zirah… apakah sudah pindah, atau ke Timur Tengah atau di-PHK, ah tak mungkin kalau ia di PHK, pikir Oemar Bakrie. Ia mencari informasi hingga didapatnya kalau Zirah pulang kampung. Tapi kenapa tak bilang, tak ada pesan sedikitpun, ah aneh…..

Ada seorang guru yang ikut mengantar ke stasiun menceritakan kalau Zirah ada keperluan yang sangat pribadi di kampung. Diceritakannya kalau Zirah sempat mengalami keterlambatan karena kereta tua yang akan membawanya mengalami keterlambatan. Padahal Zirah sudah tanya loket dan penjaga kapan kereta tiba pukul berapa, tapi rupanya 2 jam kereta terlambat sudah biasa, jadwal belum lancar, aaaaah negeriku..….

Ada apa Zirahku sayang pergi tanpa pesan, padahal aku kini sedang rindu tebal, apa ada yang sakit di kampung, atau ada sesuatu yang tak ingin merepotkanku, aku bagaikan yang terlupakan… pikirnya dalam lingkaran keheningan suatu malam di rumahnya. Yaaach… sebelum kau bosan, sebelum aku menjemukan, tapi jangan tutup dirimu….. Sambil memetik gitar, satu-satu dinyanyikannya lagu cinta. Ingin rasanya Oemar Bakrie menuangkan suara hatinya menjadi coretan dinding atau menulis surat buat wakit rakyat di DPR sana. Tetapi semua hanya di awang-awang. Baginya memang asmara tak secengeng yang aku kira.

Teringat ia waktu Zirah meminta lagu nyanyianmu, tapi malah dijawab menyanyikan lagu yakinlah. Buat dia cinta tak perlu nada, tak perlu irama, jalanin saja, hadapi saja. “Bilang saja capek mas…” sahut Zirah waktu itu. Jadi kayak orang gila Oemar Bakrie kalau ingat kejadian itu.

Hingga suatu hari ia mendapat surat dari Zirah di kampung yang isinya bahwa ia akan dinikahkan dengan Bento seorang konglomerat di kampungnya tanggal 15 Juli 1996 nanti. Sempat Zirah menolak dan meminta bantuan paman Doblang tapi terlambat sang paman keburu dipenjara karena difitnah orang. Pada siapa ku mengadu, tolong dengar Tuhan

“Mas, aku ingat ikrar kita, tapi apa daya kini semua harus berakhir dengan air mata, maaf cintaku…” tutup Zirah di ujung suratnya.

Hancur hati Oemar Bakrie bagai puing bangunan yang dibongkar, surat itu bagaikan proyek 13. Tak pernah terbayangkan olehnya akan hal ini. Amarah sempat dalam dada, namun akalnya menerka. Ia tak larut dalam patah hati dan kesedihan yang membuatnya menjadi frustasi seperti berandal malam di bangku terminal. Hatinya tetap tenang, tegar seperti matahari tidak seperti isi rimba tak ada tempat berpijak lagi.

Diraihnya gitar dan menyanyikan nyanyian jiwanya, walau kadang terdengar kayak celoteh camar tolol dan cemar. Tak begitu merdu tapi tak kalah dari esek-esek udug-udug-nya nyanyian ujung gang. Sempat pula tercipta sebuah lagu tapi belum ada judulnya. Baginya ini bukan akhir segalanya dan harapan tak boleh mati maka kupaksa untuk melangkah. Ia pun mendo’akan semoga Zirah bahagia apapun yang terjadi.

“Nona, aku sayang kamu, kini engkau milik orang lain, dan engkau tetap sahabatku, semoga kau benar……., aku disini,.. aku yang tersendiri” gumamnya.

Begitulah bila mata hati tetap ada dan sehat maka di balik bening mata air tak ada air mata.*** ART - jumatmalam multiply com ***

catatan :
Cerita ini hanya fiktif belaka dan bagi Iwan Fals Mania pasti banyak kekurangannya. Sebelumnya kepada bang Iwan Fals saya minta maaf karena telah mengacak-acak judul-judul lagunya (123 judul). Tapi inilah sedikit bentuk terima kasih saya buat bang Iwan Fals yang lagu-lagunya banyak terekam dalam kehidupan saya hingga saya coba menjadikannya sebuah cerita. Masih banyak judul lagunya bang Iwan Fals yang tidak masuk ke cerita ini, dan yang pasti kita semua mengharapkan bang Iwan Fals akan terus berkarya hingga mungkin akan jadi cerita selanjutnya. Semoga bermanfaat. *art*

(cerpen kiriman Abdul Rahman kepada iwanfalsmania.blogspot.com)

4 comments:

  1. Kreatif juga ya,
    Keren bung ceritanya!

    ReplyDelete
  2. Maaf ini komentar yang tidak nyambung dengan topik diatas....cuma numpang aja.
    Saya heran darimana asal usul "FALS" itu ?? Jaman Iwan masih sekolah di SMP V - Bandung dulu (juga nakal2an ngamen di Dago Tea House) perasaan gak ada yang ngasih julukan "fals".
    Teman2 di tempat indekostnya dulu di jalan teratai 29 Bandung malah manggil dia Tanto krn keluarganya manggilnya juga Tanto.
    Ya udah dulu ah.... Tanto lu masih doyan makan gepuk ????

    ReplyDelete
  3. ini punya saya om,.
    sebuah surat cinta yang saya karang dari judul-judul lagu bang Iwan, saya minta pendapat admin, gimana?

    SURAT BUAT TERKASIH

    Aku teringat waktu "Buku Ini Aku Pinjam"
    Kutulis sebuah "Senandung Lirih"
    Tentang masa lalu kita di "Jendela Kelas Satu"
    Kunyanyikan sebuah "Lagu Cinta"
    yang "Belum Ada Judul" saat itu,,

    "Maaf Cintaku" ketika pertama kali kita bertemu
    Tanggal "22 januari" beberapa tahun yang lalu,
    Saat "Aku Antar Kau" dengan "Pesawat Tempurku"
    Ada satu hal "Yang Terlupakan" yang tersirat dari "Suara Hati",,
    Namun "Entah" kenapa "Tak Pernah Terbayangkan"
    Rasanya bila "Ini Bukan Mimpi",,

    Ketika pertama kali kulihat sebuah "Mata Indah Bola Pingpong"
    Ku panggil kau dengan sebutan "Nona"
    Ku rayu kau dengan "Susah Susah Mudah"
    Ku ingin kau jawab pertanyaanku cuma dua "Ya atau Tidak"
    Karena aku sedang di "Mabuk Cinta"
    Karena kamu sudah membuat aku “Tergila-Gila”,,

    "Kumenanti Seorang Kekasih" di tempat dulu kita bertemu
    "2 menit 10 detik" terasa lama aku menunggu,,
    Aku melihat kau bersama seorang "Bento" waktu itu,,
    Melihat itu membuat aku "Cemburu"
    Aku tahu ternyata "Aku Bukan Pilihan" hatimu,,

    "Haruskah Ku Pergi" meninggalkan semua ini membawa"Rinduku",
    Hatiku “Ancur” dan aku hampir "Frustasi" karenamu,,
    "Izinkan Aku Menyayangimu" seperti dulu,
    Meskipun kau bukan kekasihku kau “Tetap Sahabatku”,,
    Teruskan saja "Nyanyianmu" yang merdu dan syahdu,
    "Jangan Kau Tutup Dirimu" jika kau bersedih ingatlah aku,
    "Aku Milikmu" hingga ku tutup usiaku,,

    Aku tahu dalam hatimu "Masih Bisa Cinta"
    Karena kau "Yang Tercinta" kau masih terpatri dalam hati ini,,
    Dalam "Lingkaran Hening" aku tak pernah merasa sepi
    "Doa Dalam Sunyi" pun selalu menghiasi malam ku ...
    Walaupun aku sendiri ….

    Aku takkan pernah pergi .....

    “Untukmu Terkasih…."

    ReplyDelete

IWANFALSMANIA.COM -> 100% Iwan Fals. Ini bukan situs official.
Komentar di iwanfalsmania.com dimoderasi, harap maklum. Asal bukan spam dan keluarganya, pasti komen Anda kita tayangkan :).

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...